Perayaan Patah Hati
Kode Iklan Atas Artikel
Hari ini aku termangu tepat dibawah sayup sayup lentera kamar
Hari ini, ku rasai tubuhku semakin menggigil
Memeluk selimut bersama dengan hangatnya bayang-bayang
Seketika dahiku berkerut, hatiku meronta ingin sekali menuliskan kata-kata
Suara suara jiwa menjerit, seakan menginginkan untuk segera mungkin keluar dari jeruji bungkam
Seperti telah terkubur dalam kematian yang tak terhitung kapan ia datang
Semua makin berkecamuk, rentetan kata bersorak ramai atas perayaan patah yang masih hangat
Mereka mencabik-cabik luka , mendabik - dabik dada .. ahh cukup!
Habis sudah ku bilang pada kalian !
Tak segala perih harus kutuliskan
Kupahat dalam prasasti yang membatu bersama dengan kenangan
Tak perlu semua haru perpisahan kubuatkan monumen selamat tinggal
Bukankah semua cukup tersimpan rapi dalam lemari hati
Sudut ruang ter gelap bersama bayangan remang yang sesekali sanggup disebat oleh api kerinduan
Kataku.. segalaku.. sudah habis
Riuh, suara suara terus mendobrak pintu pintu kalbu
Ahh tidak ! Aku sudah tak mau lagi menuliskan apapun
Tak terasa, jari jariku kaku
Sekujur tubuhku meringkuk pilu
Air mata, tetesan demi tetesan mengelabui malam yang sendu
Membersamai pikiran yang menggelayut sayu tertutup kelambu
Kataku sudah habis, harus bagaimana lagi?
Meratap, mengusap usap wajah bersamaan dengan basah airmata
Kemudian mengulang-ulang kesedihan
Kataku habis, genggam erat hatiku agar aku baik baik saja
Hari ini, ku rasai tubuhku semakin menggigil
Memeluk selimut bersama dengan hangatnya bayang-bayang
Seketika dahiku berkerut, hatiku meronta ingin sekali menuliskan kata-kata
Suara suara jiwa menjerit, seakan menginginkan untuk segera mungkin keluar dari jeruji bungkam
Seperti telah terkubur dalam kematian yang tak terhitung kapan ia datang
Semua makin berkecamuk, rentetan kata bersorak ramai atas perayaan patah yang masih hangat
Mereka mencabik-cabik luka , mendabik - dabik dada .. ahh cukup!
Habis sudah ku bilang pada kalian !
Tak segala perih harus kutuliskan
Kupahat dalam prasasti yang membatu bersama dengan kenangan
Tak perlu semua haru perpisahan kubuatkan monumen selamat tinggal
Bukankah semua cukup tersimpan rapi dalam lemari hati
Sudut ruang ter gelap bersama bayangan remang yang sesekali sanggup disebat oleh api kerinduan
Kataku.. segalaku.. sudah habis
Riuh, suara suara terus mendobrak pintu pintu kalbu
Ahh tidak ! Aku sudah tak mau lagi menuliskan apapun
Tak terasa, jari jariku kaku
Sekujur tubuhku meringkuk pilu
Air mata, tetesan demi tetesan mengelabui malam yang sendu
Membersamai pikiran yang menggelayut sayu tertutup kelambu
Kataku sudah habis, harus bagaimana lagi?
Meratap, mengusap usap wajah bersamaan dengan basah airmata
Kemudian mengulang-ulang kesedihan
Kataku habis, genggam erat hatiku agar aku baik baik saja
Kode Iklan Bawah Artikel