Tak pernah ada KITA
Kode Iklan Atas Artikel
Kulihat mentari membenam, tersapu oleh mega yang berhamburan
Cahaya meredup kian padam
Menenggelamkan parasnya langit yang kian biru menawan
Pertanda, semesta sedang bergumam diiringi rintik hujan
Aku bersama ribuan monster kecil , berlarian dalam pikiran berusaha mengais alasan agar tak ada perpisahan
Berusaha merekam kenangan dengan segala pembenaran
Aku ingin bertahan, hatiku begitu tak ingin meninggalkan
Ragaku terasa begiru ringan
Terapung, terperanjat dalam segala hingar bingar keadaan
Pikiranku kembali melayang , tentang berjuta peristiwa yang telah kita lalui
Tentang memori yang pernah terpatri pada ratusan bahkan ribuan hari
Tentang rasa yang jauh telah tersimpan rapi dan enggan pergi
Rasanya sesak sekali, aku pun tak bisa berkata kata
Ini bukan saatnya aku meratap luka
Bukan pula tentang kisah kita yang meratap penantian
Terhalang jarak yang membentang
Namun, ini tentang seonggok kisah yang hampir patah karena semesta enggan berbincang
Bahkan tuhan pun tak mau merestui
Semua berteriak memutus dengan lantang
Iya, tentang aku dan kamu dalam perbedaan yang ternaung dalam cinta terlarang
Apakah kau paham?
Bagaimana rasanya menaruh rasa pada orang yang berbeda?
Lalu harus kusebut apa ini? Apakah ini cinta?
Apakah cinta harus memaksa hari hariku bersama pada seseorang yang bahkan tak sama ?
Inilah akhir kisah yang dulu pernah aku agungkan
Meski kau yakinkan segala dapat dipersatukan
Maaf, mungkin karena bumi tak ingin kita bersama
Langit pun tak ingin kita membuat bahtera
Semesta menangis karena dua insan yang saling mengkhianati
Maaf, aku baru tersadar
Harus ku Alfa kan segala kisah yang tak akan pernah ada kita
Kode Iklan Bawah Artikel