Bilomunious - 001
Kode Iklan Atas Artikel
lni adalah sebuah cerita yang kususun dari sebuah kisah nyata yang kemudian berubah menjadi khayalan yang membentuk sebuah kata menjadi kalimat dan cerita.
Invisible. Tak kasat mata.Unheard. Tak terdengar.
Alone. Sendirian.
Kata-kata itu mungkin bisa menggambarkanku.
Aku yang tak kasat mata dan aku yang tak terdengar.
Tidak ada yang mau melihat ke arahku.
Dan tidak ada yang mau mendengarku.
Aku gila.
Ya, aku gila.
Aku gila karena aku hanya bisa berbicara kepada diriku sendiri.
Apa tidak ada orang yang menyayangiku.
sehingga aku ditelantarkan seperti ini?

Sekolah Menengah Atas
Januari,2017
Banyak orang bilang kalo SMA itu awal awal nakalnya remaja.
Banyak juga yang bilang kalo SMA itu awal awal orang jatuh cinta .
Tetapi,
Menurutku..
SMA itu masa dimana ingatan kejadian kecil yang dialami disana akan selalu teringat, akan selalu dikenang, dan mungkin dari ingatan itu akan terus ada disisi kita.
Tetapi, tidak ada yang tahu kehendak tuhan atas hidup kita,ya kan?
"Leticia Aeera Shazen" Aku adalah perempuan kecil pindahan sekolah dari salah satu SMA di Surakarta dan saat ini
menginjak bangku SMA kelas 11 di salah satu SMA di Bekasi.
Hari pertama ku di sekolah baru.
Aku terbangun dengan kepala yang terasa sangat pusing. Kududukkan tubuhku, kemudian meminum segelas air putih di atas ranjang milikku. Rasanya seperti sehabis meminum bir satu botol, padahal aku tak meminumnya semalam. Sudah menjadi kebiasaanku sejak hal itu terjadi. Kepalaku akan terasa sangat sakit jika mengingat kenangan di masa lalu.
Aku melirik jam yang menunjukkan pukul 4 pagi, lalu meninggalkan ranjang dan menyibak tirai jendelaku. Pemandangan indah perkotaan yang lengang di pagi hari menyapaku, dengan semilir angin dingin yang membuai kulitku ketika jendela kubuka lebar-lebar.
Setelah bersiap-siap, aku keluar kamar dan mendapati keadaan rumah yang masih sepi seperti biasa, karena masihjam 5 pagi.
Aku melangkah kearah dapur, lalu mengambil sepotong sandwich yang ada di nampan milik Rose, adikku. Salah seorang menatapku seraya mengerutkan keningnya.
Aku mengambil sepatuku di rak dekat jendela, lalu dengan mulut yang menggigit sandwich, kupakai kedua sepatu itu. Hingga sebuah suara hampir membuatku tersedak ketika mencoba menelan.
"Sudah mau berangkat?"
Aku menoleh dan mendongakan kepalaku untuk menatap Ibu yang masih memakai piyama tidurnya. Aku kembali mengunyah sandwichku dan mengikat tali sepatu yang satu, kemudian berdiri dan melangkah meninggalkan rumah. Siapa yang mau menanggapinya?

Sebenarnya bukan karena aku tak ingin di manja, Aku terbiasa tinggal bersama orang lain , mungkin karena itu aku terbiasa pula mandiri.
Kupakai headset putih milikku, lagu lagu itu Mengiringi langkahku.
Tak terasa ku tiba di sebuah halte sembari menunggu bis menghampiriku.
Tak lepas dari genggaman ponselku akhirnya ku sudah berada di depan gerbang SMA baru ku.
Aku takut menjadi korban bullying seperti halnya film film yang ku tonton tentang derita menjadi anak baru.
Aarrrgghhh, tapi sudahlah kuberanikan diri melangkahkan kaki menuju sebuah kelas dimana ruangan itu yang nantinya akan menemani hari hari ku di sekolah.

Ku hanya bisa menunduk, tak ingin sapa siapapun rasanya, meskipun saat itu aku tak salah memakai seragam tapi rasanya aku merasa beda, asing.
Upacara pun usai, aku yang masih dengan tubuh dinginku mencoba menaiki anak tangga menuju kelas baru ku, semua
Kalau bukan karena untuk kedua orang tuaku, aku juga tak ingin rasanya melanjutkan sekolahku, masa lalu itu membuatku frustasi dan takut kembali bergaul dengan mereka yang ku sebut teman.
Setibanya aku di kelas, aku disambut dengan begitu baik, aku memang penghuni baru, lugu, tak kenal siapa – siapa .

Momen pertama yang membuatku tak lupa sampai saat ini adalah ketika aku ingin melangkahkan kaki menuju ruang kelas, dengan badan sedikit membungkuk dan langkah kaki yang dengan seenaknya saja memasuki ruang itu mengenakan sepatu hitam ku.
Satu kelas : Sepatunya dilepasssssssss !!
Tak ingin rasanya kejadian itu terulang lagi
Ku duduk di kursi paling belakang baris kedua setelah pintu kelas bersama dengan seseorang yang pertama kali ku kenal, Berlin namanya, dia cantik , baik, dan sedikit bawel.
Aku yang saat itu belum mengerti apapun, hanya diam
membisu, berharap tak ada seorang pun yang akan menanyaiku, mataku mengarah ke seluruh siswa yang ada di ruang itu, ku lihat hampir semua dari mereka sibuk dengan gadget nya masing – masing. Aku pun sama ingin menyibukkan diriku dengannya, tapi apalah dayaku yang masih saja terpaku pada peraturan di sekolah lama.
Satu hal yang terlintas adalah aku merasa sekolah baru ku 180 derajat berbanding terbalik dengan sekolah lama ku, dimana dulu aku begitu terkekang dengan aturan – aturan
Tak lama aku masuk ke dalam kelas yang diarahkan oleh seorang Guru TU. Saat itu kalau tidak salah sedang berlangsung pelajaran PKN.
Seorang guru wanita berkacamata plus dan berwajah sinis (menurut saya) sedang sibuk menjelaskan pelajarannya di papan tulis.
Kegiatan belajar terhenti sejenak saat aku masuk kelas.
Suasana hening dan semua mata di dalam kelas tertuju kepadaku.
Namun hal itu hanya sebentar saja, setelah aku duduk di bangku paling belakang , guru PKN tersebut kembali melanjutkan kegiatannya.
Ia tidak banyak berbasa-basi kepada ku.
Aku yang saat itu duduk dengan wajah sedikit mengkerut dan jantung seperti ingin copot mencoba bersikap wajar.
Karena yang sebenarnya terjadi, kepala ku pusing karena saya sama sekali tidak memahami apa yang dijelaskan oleh guru tersebut.
Selain aku telah ketinggalan materi pelajaran sebelumnya karena telat menjalani masa - masa sekolah, aku pun seolah alergi dengan pelajaran berbau Eksak.
Barulah saat jam istirahat tiba, aku merasa agak lega.
Ada beberapa anak perempuan di kelas itu yang mendekati ku dan mengajak ku mengobrol.
Aku pun mencoba bersikap akrab dan ramah, meski semuanya terasa canggung.
" Cia, ke kantin yuk?”
“Eh, aku sudah bawa bekal”
“Oh oke kalau gitu, kita ke kantin dulu ya”
Waktu itu aku mengira pindah sekolah adalah hal yang paling tidak menyenangkan, terbayang di kepalaku aku dicuekin dan tidak punya teman karena dianggap asing.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu, tadi ketika baru masuk kelas ternyata sudah banyak yang menyapaku dan mengajak kenalan.
“Mungkin aku akan betah di sini dan sepertinya besok tidak perlu lagi membawa bekal agar bisa ke kantin bareng mereka” pikirku.
Setelah bel istirahat berbunyi beberapa menit yang lalu, ruang kelas 11 IPA 5 menjadi benar-benar sepi hanya menyisakan aku dan dua murid perempuan lain di pojok sana, murid yang membuatku merasa nyaman sekarang.
“Hai” kataku yang entah mengapa berani menyapanya.
“Apa kamu sakit?” Kataku lagi.
“Apa aku mengganggunya?” Membuatku bertanya dalam hati.
Bel masuk berbunyi, mendadak ruang kelas kembali dipenuhi murid-murid.
Safa, alissa, bunga, melani, devi, laras, dan murid yang namanya kuingat juga sudah memasuki kelas.
Dan lelaki itu, yang menatapku tajam beberapa menit yang lalu tersenyum padaku ketika aku menoleh ke tempat duduknya, dengan wajah yang ceria dan terlihat segar jelas berbeda dari sebelumnya. Membuatku bingung saja.
“Hei! Kenapa bengong?” Berlin, teman sebangkuku mengagetkan.
“Eh nggak kok, lin cowok yang duduk di kursi paling pojok itu namanya siapa?”
“Yang mana?”
“Yang paling kanan itu”
“Ooh itu namanya Arya rizki , biasa dipanggil Arya”
“Ooh”
“Emmm... ” jawabku ragu
Pelajaran Bahasa Indonesia berlangsung tanpa ada rasa kantuk menghampiriku.
15 menit lagi istirahat kedua tapi rasanya aku benar-benar ingin pipis sekarang.
Kulihat Berlin sangat fokus menyimak pelajaran yang disampaikan oleh ibu Anis, membuatku ragu untuk memintanya menemaniku ke luar.
“Kenapa Cia ?” Berlin menyadari kegelisahanku
“Pengen pipis”
“Ya ampun ciaaa kenapa nggak bilang dari tadi sih, yuk aku temenin”
“Hehe” jujur, aku sedikit malu pada Berlin.
“Ayo, kenapa masih diam di tempat?”
“Kamu yang minta izin”
“Ya ampun ciaa iya, yuk”
Bel istirahat kedua pun berbunyi
Aku dan teman-temanku bergegas menuju ke masjid sekolah untuk melaksanakan sholat dzuhur disana
Seusainya, aku kembali memasuki ruang kelasku untuk melanjutkan pelajaran berikutnya .
Singkat cerita, bel ketiga pun berbunyi menandakan waktu berakhirnya kegiatan hari itu
Aku pulang dengan wajah semringah di dampingi kedua temanku yang juga kebetulan searah dengan ku menaiki bus Diiringi dengan cuaca yang tidak begitu panas, mengajakku berkelana dengan riang menuju istana ku yaitu rumah kedua orang tua ku.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
Kode Iklan Bawah Artikel
